Uncategorized

Agen Baju Gamis Syar’i Import Saudi

Posted by suparman

Istilah “busana Islami” telah digunakan sebagian besar untuk tujuan komersial dalam agen baju gamis syar’i hari ini. “Busana sederhana, busana Muslimah dan sesuai Syariah” adalah tiga istilah yang paling sering digunakan secara bergantian untuk mencerminkan “busana Islami”.

Agen Baju Gamis Syar’i Khas Saudi

Meningkatnya tuntutan “busana Islami” dan gaya hidup telah dilaporkan karena peningkatan populasi Islam di dunia. Laporan ini juga menyatakan grosir baju gamis sebagai salah satu sektor kunci yang berkontribusi terhadap ekonomi Islam global antara lain sektor makanan dan minuman, keuangan Islam, perjalanan, rekreasi, farmasi dan kosmetik. Karena Islam adalah agama utama orang Melayu di Malaysia, “Busana Islami” berkembang pesat mengikuti tren mode yang disorot di runway mode di kota-kota mode besar seperti London, Paris dan Dubai.

agen baju gamis syar'i 4

Tren agen baju gamis syar’i memiliki arti lebih dari sekedar fenomena sosial dimana banyak orang menerima gaya pakaian tertentu. Busana perempuan selalu mencerminkan perubahan status dan peran perempuan dalam masyarakat serta memainkan peran kunci dalam sejarah gerakan pembebasan perempuan dan partisipasi dalam aktivitas politik. Meski demikian, trend fashion muslim pada awal abad ke-20, sebuah era pergolakan sosial di Korea, masih belum mendapat perhatian dari penelitian sebelumnya. Studi sebelumnya yang mencakup periode waktu ini hanya meneliti dan menunjukkan seperti apa tren pada masa itu (Kim, Q 2005., Back dan Lee., 1999.).

Di Malaysia, busana muslim pada umumnya dipengaruhi oleh komunitas wanita muslimah yang disebut Hijabers (Indriya, 2012) atau Hijabistas (A.Ghani, 2011), fashion blogger muslim, fashion designer dan industri fashion retail. Istilah hijab adalah kata dalam bahasa Arab yang diartikan sebagai “pembatas” atau lebih sering digunakan untuk mendeskripsikan “kerudung” (Indriya, 2017). Jadi, hijabers mengacu pada wanita yang memakai cadar dan agen baju gamis syar’i merupakan kombinasi dari hijab dan fashionista yang mengacu pada seorang yang fashionable. dan wanita muslimah yang stylish. Mulainya majalah busana muslim seperti Aquila Style (Singapura, 2010), Majalah Hijabista (Malaysia, 2012) dan Majalah Muslimah (Indonesia, 2013) turut berkontribusi pada perkembangan busana muslim di Malaysia. Saat ini, perancang busana Muslim sangat dirayakan dan koleksinya diterima dengan baik oleh massa.

Namun hal yang paling memprihatinkan yang diangkat oleh para ulama dan ulama adalah apakah busana muslimah itu kepatuhan syariah dan sejalan dengan ajaran Islam sehingga disebut “busana Islami” (Abd. Rahman, 2007). Isu lain yang menjadi perhatian adalah desain “busana Islami” yang diproduksi oleh agen baju gamis syar’i dan merek non-Muslim yang memiliki sedikit pengetahuan dan pemahaman tentang agama (Zulqarnain, 2017) Pepin (2012) menyatakan bahwa perancang busana itu sendiri tidak sejalan dengan interpretasi mereka tentang “ Busana Islami ”. Pepin juga menunjukkan bahwa umat Islam terbagi oleh pengaruh geografis, politik dan budaya, yang mungkin membuat tafsir Al-Quran dan Sunnah sedikit berbeda dari satu tempat ke tempat lain. Misalnya di Maroko, wanita muslimah yang memakai baju longgar tapi tidak harus menutupi rambutnya. Padahal, di Malaysia banyak wanita muslimah yang memakai jeans dan kaos oblong tapi memakai syal atau selendang untuk menutupi rambutnya.

Di Malaysia, tudung, kerudung atau selendang penting untuk menunjukkan identitas sabilamall. Banyak wanita Malaysia yang menutupi rambutnya tetapi pada saat yang sama mengenakan gaun ketat yang memperlihatkan kontur tubuh (Abd. Rahman, 2007). Implikasinya terhadap kurangnya pendidikan dan pemahaman kaidah Al-Quran berdampak pada karya desain dan kesesuaian istilah “busana Islami” yang digunakan dalam mempromosikan koleksi busana seseorang.